yandex

Tak Ada Biaya, Santri yang ‘Ramal’ Prabowo Jadi Menteri Kini Keluar dari Pesantren

Bertepatan dengan Peringatan Hari Santri pada 22 Oktober, beredar kembali video santri yang menyebut Prabowo Subianto menjadi menteri Joko Widodo (Jokowi). Diketahui, Prabowo Subianto sudah resmi menjadi Menteri Pertahanan sejak Rabu (23/10/2019).

Ucapan Muhammad Askal Fikri (20) pemuda asal Kuripan Lor Gang 23, Kelurahan Kuripan Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan jadi kenyataan.

Muhammad Askal Fikri, Santri yang Rama Prabowo jadi menteri
Muhammad Askal Fikri, Santri yang Rama Prabowo jadi menteri

Video tersebut viral di media sosial dan memantik atensi warganet. Tak sedikit dari mereka yang mengaitkan hal itu dengan kedatangan Prabowo ke Istana Merdeka jelang pengumuman Kabinet Jokowi Jilid II.  Setelah ditelusuri, video berdurasi 31 detik itu direkam sejak 4 Mei 2016 dan beredar di media sosial. Bahkan kanal YouTube Presiden Joko Widodo turut membagikan video tersebut pada 28 Mei 2016 dalam durasi lebih panjang dua menit 29 detik.

Tiga tahun silam, Fikri mendapatkan hadiah dari Presiden Jokowi setelah menyebutkan 3 nama menteri.

Namun saat itu, Fikri yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren API Tegal Rejo Malang menyebut Megawati Soekarno Putri, Ahok, dan Prabowo Subianto sebagai menteri.

Walau jawaban yang diberikan Fikri salah, Presiden Jokowi tetap memberikan hadiah sepeda. Dua tahun berlalu, tak disangka ucapan Fikri yang spontan dikatakan itu menjadi kenyataan.

“Saya hanya spontan menjawab karena grogi, aslinya saya tidak tahu jabatan mereka. Karena waktu di pondok saya tidak pernah menonton televisi,” ujarnya melansir dari Tribunjateng.com, Jumat (25/10/2019) siang.

Fikri sebut Prabowo jadi menteri Jokowi.
Fikri sebut Prabowo jadi menteri Jokowi.

Sebuah video juga memperlihatkan kala Fikri melihat dirinya sendiri 3 tahun lalu.

Kala itu, Presiden Jokowi menghadiri peringatan Isra’ Mi’raj 1437 H di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.

Dalam sebuah sesi, presiden lalu meminta seorang santri untuk menjawab kuis tentang nama-nama menteri. Setelah maju ke panggung, santri bernama Muhammad Azka Fikri berdiri di samping Jokowi. Ia lalu memberikan jawabannya dengan menyebutkan nama pendek tiga tokoh nasional.

“Nomor satu Bu Megawati, kedua Ahok dan nomor tiga Prabowo,” ujar Muhammad Azka Fikri.

Seketika jawaban tersebut mengundang gelak tawa penonton di aula, tak terkecuali dengan Presiden Jokowi yang tersenyum dan langsung menepuk pundak bocah itu. Presiden lantas meminta santri tersebut untuk mengambil sepeda sebagai hadiah atas kuis yang diberikan. Kekinian, video itu kembali dibagikan oleh pengguna Twitter @ivanZulva hingga disaksikan lebih dari 312 ribu kali.

Warganet menyebut, ucapan santri tersebut ternyata terbukti di kemudian hari.

“Tahun 2016 santrinya Gus yusuf_ch sudah bilang .,” tulis @ivanZulva sebagai keterangan dari video.

Ia mengaku masih malu saat mengingat momen pertemuannya dengan Presiden Jokowi.

“Malu sebenarnya, tapi saya mengambil hikmah dari pertemuan itu. Bagi saya yang terpenting berani dulu untuk maju, karena banyak santri tak berani maju saat Presiden meminta sejumlah santri untuk menjawab pertanyaan,” paparnya.

Kini, Fikri tak lagi menuntut ilmu di pondok pesantren karena terkendala ekonomi keluarga. Fikri membantu menyokong kebutuhan keluarga dengan bekerja di tempat pembuatan kain tenun. Meski sudah tak menjadi santri di ponpes tersebut, Fikri terus belajar. Selain menceritakan niatannya mendapatkan sepeda, hal unik lainnya diterangkan oleh Fikri.

“Waktu itu saya sengaja menarik perhatian Presiden. Jika santri lainya hanya mengacungkan jari, saya sambil bergoyang agar Jokowi memanggil saya,” jelasnya.

Cara tersebut dikatakan Fikri ampuh, untuk menarik perhatian Jokowi dan memintanya maju ke mimbar. “Ya kalau hanya mengacung pasti tidak akan dipanggil, maka dari itu saya sambil bergoyang,” imbuhnya.

Kehidupan Fikri menyimpan duka

Siapa sangka di balik keceriannya saat bersama Presiden Jokowi, kehidupan Fikri menyimpan duka. Pasalnya Fikri tak pernah bertemu sang ibu sejak kecil. Kondisi ekonomi keluarga yang tak baik membuat Fikri ikut membantu dengan bekerja. Diceritakan oleh Timbul Jaya (70), nenek Fikri, sejak kecil Fikri sudah diurus oleh dirinya. Bahkan saat berada di pesantren, neneknya lah yang mencukupi kebutuhan Fikri.

Sejak kecil, Fikri sudah ditinggal oleh sang ibu dan tinggal bersama neneknya.

“Sejak kecil Fikri sudah ditinggal oleh ibunya, sebenarnya ia rindu sosok ibunya,” jelasnya kepada Tribunjateng.com di rumahnya, Jumat (25/10/2019) siang. Dilanjutkan Timbul, perceraian membuat ibunya meninggalkan Fikri dan keluarga.

“Sejak kecil ia tak merasakan perhatian ibunya, sebenarnya ibunya warga Kota Pekalongan, namanya Eni Robiyanti. Meski Fikri terlihat tegar, sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan ibunya,” jelasnya.

Sementara itu ayah Fikri, Ali Murdi (45) menerangkan Fikri memilih tak melanjutkan menuntut ilmu di Ponpes satu tahun lalu.

“Melihat kondisi perekonomian keluarga, ia memutuskan untuk keluar dari Ponpes dan bekerja,” ucapnya.

Menurut Ali, Fikri sosok anak baik dan bertanggung jawab, tak jarang ia berbagi ilmu ke teman-temannya.

“Kalau sore ia mengajar ngaji teman-temannya di rumah, ia anak baik dan bertanggung jawab terhadap keluarahan,” kata Ali.

Fikri mengatakan sangat ingin dapat lulus di pondok pesantren tersebut.

Namun karena kondisi ekonomi keluarga, Fikri memilih keluar dari ponpes dan membantu keuangan keluarga.

“Sebenarnya saya punya cita-cita bisa lulus dari Ponpes, tapi melihat kondisi keluarga saya tidak bisa hanya diam.

Saya memutuskan untuk keluar dan bekerja membantu keluarga,” tambahnya.

Artikel Terkait

Back to top button